Yang di Jogja pasti tidak asing lagi dengan
pengamen-pengamen angklung yang meramaikan perjalanan kita dengan
bermacam-macam lagu yang digubah oleh
mereka. Kadang terhibur saat suntuk, kadang juga bikin tambah suntuk apalagi
kalau macet dan dikejar waktu. Apa pun itu, yang jelas fenomena ini telah
menyebar hampir ke seantero Jogja.
Bicara tentang fenomena ini, pernah tidak sih
memikirkan berapa jumlah uang yang selayaknya kita berikan untuk mereka? Atau
pertanyaan lain, berapa sih penghasilan mereka dari meramaikan perjalanan kita
itu?
Mari coba kita lakukan hitung-hitungan sederhana
berdasarkan jumlah personil mereka, lama mereka bekerja, sampai berapa uang
yang layaknya kita berikan.
Pertama, kurang lebih personil terdiri atas enam
individu. Dua individu akan keliling untuk meminta tips, satu individu menabuh
gendang (Atau drum atau apalah itu namanya) dan tiga menjadi pemain angklung
sambil semuanya serentak bernyanyi. Catatan, banyak juga yang anggotanya
terdiri lebih dari enam individu.
Kedua, lama jam kerja katakanlah di persimpangan
dengan lampu merah sekitar 90 detik, maka dalam satu jam ada sekitar 26 kali
lampu merah dan mereka beroperasi selama tujuh jam mulai dari pukul 10.00 –
17.00 WIJ (Waktu Indonesia Jogja).
Akan sampai pada berapakah nominal wajar untuk kita
memberi mereka. Apakah kita harus merelakan receh kita untuk mereka? Haruskah
kita pura-pura tidak mendengar dan melihat mereka? Haruskah kita (Yang pakai
motor) nyelip-nyelip di antara mobil Daihatsu Sigra (Mobil Sejuta Umat
pengganti Avanza dan Xenia) biar mas-mas yang keliling susah bergerak ke arah
kita?
Bagi kaum yang suka nyelip-nyelip itu, yang bukannya
tidak mau memberi melainkan sebenarnya butuh diberi karena dompet juga semakin
tipis hari demi hari, biar tidak terlalu merasa bersalah sebaiknya tahu
hitung-hitungan berikut.
Semiris-mirisnya, dari 90 detik lampu merah dan
antrian macet panjang perempatan, katakanlah hanya ada satu orang yang memberi
mas-mas tukang keliling, pun yang diberikan juga Cuma 500 perak, maka coba
kalikanlah dengan berapa kali lampu merah dalam satu jam, dikalikan berapa jam
mereka beroperasi.
Maka :
500 x 26 (jumlah lampu berwarna merah dalam satu
jam) x 7 (Jumlah jam operasi) = Rp 91.000 per hari. Jika dikalikan 25 hari
kerja maka hasilnya menjadi Rp 2.275.000. Nah loh, sudah di atas UMR Jogja yang
rata-rata mentok di angka sejuta lapan ratusan, kan? Eh tetapi angka itu masih
harus dibagi rata dengan enam individu, yang berarti masing-masing mendapatkan
Rp379.166xxxxxx. Kecil juga setelah dibagi.
Tetapi ingat, itu jika nominal yang didapat dalam
sekali perform di satu kali lampu
merah hanya lima ratus perak. Nah, kita sebagai kaum nyelip-nyelip masih harus
mikir kalau mau nggak ngasih receh kita ke mereka, kan? Masih sangat sedikit
hasil yang mereka dapat.
Jadi, berapa nominal yang layak? Jika dari lima
ratus perak bisa mendapatkan Rp2.2750.000 yang buat warga Jogja sudah lumayan
mencukupi untuk pendapatan perorangan, berarti masing-masing dari personil
harus mendapat lima ratus perak juga dalam sekali perform. Berarti jatuhnya 500 x 6 (Jumlah Individu di grup
angklung) sehingga nominal wajar jika kita ingin masing-masing personil
memiliki penghasilan dua jutaan sekian, minimal sekali lampu merah mereka
mendapatkan tiga ribu rupiah. Artinya, jika kita sudah melihat ada pengendara
Fortuner yang memberi si mas-mas keliling dengan duit 5000an, kita si kaum
nyelip-nyelip nggak perlu merasa bersalah lagi jika tidak memberikan receh
terakhir kita untuk mereka, bukan? Dan jika ternyata sampai si mas-mas keliling
tiba di depan kita dan belum mendapatkan total tiga ribu rupiah, wah, berarti
akan sangat jahat jika kita tidak merelakan receh-receh yang kita miliki.
Begitu lampu merah berganti hijau dan kita melaju
menuju tempat kerja atau ke manapun tujuan kita, lantas terbesit pemikiran,
“Lah, kok, pendapatan mas-masnya per bulan lebih gede dari gaji pokok saya yang
cuma mentok di dua jutaan?”