Report Abuse

Joki skripsi, dilestarikan atau dimusnahkan dari peradaban?



Pernah denger istilah 'mahasiswa malas, joki skripsi kipas-kipas'? Well, joki skripsi memang dituding menodai dunia akademis karena membiarkan kemalasan berpikir semakin merajalela di kalangan mahasiswa. 

Well, tapi jujur aja, sungguhlah mulia para joki skripsi itu, karena permasalahan yang ditangani bukan sekedar si mahasiswa malas mengerjakan skripsi atau tidak. Sungguh, ada banyak lika-liku kehidupan kenapa seseorang kemudian memilih membayar orang untuk mengerjakan skripsinya. Yuk, kaum susah tidur, mari bedah apa saja alasan-alasan itu. 

Alasan pertama, malas. Eeeeee, kalau alasan ini sih emang kebangeten si mmahasiswanya sih, tapi mau bagaimana lagi, selama si joki dibayar, peduli amat mau malas atau mau apa. 

Kedua, sibuk bekerja. Sudah bukan hal aneh kalau menjelang semester akhir makin banyak mahasiswa yang memilih bekerja, ada yang untuk menambah uang saku, pun ada yang ingin mulai meniti karir. Nah, bagi segelintir orang mulia yang mulai meniti karir, waktu adalah segalanya, dan mengerjakan skripsi bisa menjadi distraksi yang cukup masif, karena itulah joki skripsi sangat amat membantu. 

Ketiga, buka usaha. Hmmm, ini sih sama aja kayak yang kedua. 

Keempat, tidak mudeng apa-apa. asli, banyak banget kaum salah jurusan di muka bumi ini, walhasil mau dipaksa belajar kayak apa pun hasilnya tetep aja tidak paham, nah solusinya biar lulus ya cari joki skripsi. 

Kelima, yang paling mulia dan paling ajaib, pun banyak terjadi adalah, karena si mahasiswa ini ngejokiin skripsi orang lain. Sungguh, banyak terjadi akibat kebanyakan job skripsi yang harus dikerjakan dan bayaran yang lumayan menghidupi dibandingkan kerja jadi cs telemarketing, skripsinya sendiri jadi ditelantarkan. Alhasil, mintalah rekan sesama joki skripsinya ngerjain skripsinya. 

Jadi, haruskah pekerjaan budiman ini dimusnahkan sedangkan jasanya begitu banyak, pun terdapat simbiosis mutualisme di dalamnya?

Related Posts